Rabu, 30 Januari 2013

Pada Kodratnya, Lelaki itu Selalu Salah

Pernah kalian memarahi cewek kalian atau pacar kalian karena sesuatu hal ? Pernah kalian membentak dia dengan nada tinggi sehingga mereka menjadi takut ? Pernah kalian membuat bete mereka sehingga mereka menjadi sedih bahkan sempat mentikkan air mata ? Pernah ? Lalu, apa yang anda rasakan pada saat itu bila anda sebagai cowok ?

Malam itu Ervan memacu pelan sepeda motornya menuju ke daerah Nayu. Dengan penuh harap antusias dia berharap malam itu akan menjadi malam yang seperti malam-malam minggu seperti biasanya. Bercanda, bersendau gurau, bercerita kesana-kemari sembari menyatap makanan. Sesampainya di Nayu, terlihat remaja berambut panjang bergelombang dengan pakaian lengan panjang dan bawahan jeans biru. Dia terlihat seperti biasanya, walaupun dari sorot bola matanya terlihat menyembunyikan sesuatu. Ya, perempuan itu bernama Siska.

"keluar dulu tante, Assalamualaikum"
"iya, hati-hati di jalan" 
Jawab perempuan paruh baya itu. Dari raut mukanya beliau terlihat sedang sakit. Dan benar saja, beliau memang sedang sakit flu.

Motor pun dipacu dengan pelan, karena saat-saat seperti itulah Ervan dan Siska kerap melakukan pembicaraan ringan sembari bersendau gurau. Dari satu tempat ke tempat lain mereka kunjungi. Namun semaunya tidak cocok dengan alasan ramai. Memang waktu itu semua tempat makan penuh dengan muda-mudi yang sekedar ngobrol dan wasting time. 

"rame semua ini, kita pulang saja ya. He-he-he"
"yaudah, balik aja ke rumah. Lagian juga udah malem."

Niat pun sudah bulat untuk kembali ke rumah Siska. Akan tetapi, ada satu tempat makan yang terlihat sepi. Dan akhirnya mereka pun mampir ke tempat itu. Tempat itu tergolong baru, berada di salah satu jalan protokol di Kota Solo. Menunya pun aneh di lidah sebagian orang Jawa. Pasta, sekotel, dan olahan serba Italia semua.

"silahkan ditunggu sebentar pesannya mas, mbak"

Sembari menunggu pesannya, mereka berdua asyik dengan gadget mereka sendiri. Apalagi si Ervan, dia memang agak autis dengan hal-hal semacam itu. Pesannya pun datang. Mereka langsung mencicipi hidangan itu sembari terlibat obrolan ringan dan sendau gurau. Terlihat mereka menikmati malam itu berdua, ceria dan tertawa.
Hidangan pun habis tak bersisa, mereka tampak puas menikmatinya. Tiba-tiba Siska menyeletuk.

"kamu kemarin berasa apa pas aku mbales BM-nya lama ? katanya merasakan sesuatu yang aneh ?"
"iya, aku merasakan sesuatu yang janggal. Kamu kenapa ? cerita gih"
"ngerasain apa ? aku nggak kenapa-kenapa kok. he he he"

Siska memang pandai menyembunyikan sesuatu. Dia pandai berkilah. Tapi Ervan terus mengejarnya agar dia mau menjawab pertanyaan Ervan, bahkan dia mulai tersulut emosinya dan dengan nada tinggi membentak dan menanyai secara kasar. Siska pun juga agak terpancing emosinya.

"kamu kenapa ? ngomong gih, kenapa ?"
"aku nggak kenapa-kenapa. Mau ngomong apa coba"
"yaudah"

Akhirnya mereka pun menyudahi sementara perdebatan itu. Dan mereka meninggalkan tempat makan itu. Motorpun kembali dipacu dengan pelan kembali menuju rumah Siska. Dalam hati, Ervan bergumam bahwa dia harus mengetahui apa yang dialami oleh ceweknya tersebut. Sesampainya kembali di Nayu tersebut, Ervan dengan kasar menarik tangan Siska untuk duduk bersama di suatu tempat duduk. 

"kamu kenapa ? berantem sama ibuk ? ada masalah di rumah ?"
"aku nggak kenapa-kenapa. Hish dibilangin nggak percaya. Udah, kamu pulang aja gih"
"o gitu, yaudah aku pulang. Pamitin ke ibuk"

Ervan pun menaiki motornya kembali. Dengan ekspresi yamg jengkel dan marah dia pulang ke rumah. Terlihat sebelum pulang, Siska menunjukkan ekspresi yang ketakutan melihat raut muka penuh ekspresi Ervan.  
Kemudian Siska pun mengirim pesan BBM kepada Ervan.

"thank you, love u"
jangan bete, aku nggak kenap-kenapa"

Dalam perjalanan pulang, Ervan berpikir kenapa dia tadi justru emosi. Kenapa dia justru membentk Siska. Ervan pun menyesal. Sesampainya di rumah, dia pun segera membalas pesan BBM Siska.

"iya, love u too"
"iya udah, aku minta maaf aku salah"

Akhirnya masalah itu pun selesai, karena memang Siska tidak menyembunyikan sesuatu.

Mau diapain juga percuma. Mau didebatin kaya' apa juga ya percuma. Kodratnya lelaki itu selalu salah dlam hubungan. Salah di mata ceweknya. 
Jadi ya, lelaki itu pasti dan salah.

Ervan


 

Jumat, 25 Januari 2013

Kembang Kuburan


1/340s | 0.00eV | ISO 400 | f/6.4 | Filter Marumi ND8X | gear by HS20+0.25x58 FisheyeLens | Watermark by AdobePhotoshop | Location Wonogiri | August 22, 2012







1/640s | 0.00eV | ISO 400 | f/6.4 | Filter Marumi ND8X | gear by HS20+0.25x58 FisheyeLens | Watermark by AdobePhotoshop | Location Wonogiri | August 22, 2012


















re-post re-update,
Ervan

Istilah tersebut, Nyata.

"Don't look something just from the one side" Pernah nggak sih kalian mendengar istilah yang sepele, tapi mengena itu ? Ya, mungkin kalian pernah mendengar istilah tersebut. Jangan melihat, menilai, dan memutuskan segala sesuatu dari satu sisi. Tidak munafik, banyak dari kita yang menghiraukannya, sayapun demikian. Terasa biasa bila anda yang melakukan hal tersebut. Akan tetapi, bayangkan jika hal itu yang menimpa anda ? 

Ya, itulah yang saya rasakan. Dipandang sebelah mata, dipandang dari sisi luarnya saja. 
Saya akui saya memang bad boy. Merokok, video bokep. Saya sering pulang larut pagi, paling banter jam 2 pagi baru sampai rumah. Dan yang paling parah, saya sering menilap uang orang tua. Saya pernah diusir dari rumah gara-gara, uang SPP sekolah belum dibayarkan selama 5 bulan. Ya, jumlahnya saat itu memang besar sih Rp 180.000,- x 5 bulan = Rp 900.000,- Nasib tidak beruntung kala itu.
Dan parahnya lagi, uang tersebut untuk bermain judi bola dan saya selalu kalah. 
Sudahlah, itu keburukan saya. 

Tapi siapa sangka orang yang merokok, bokep'an, pulang larut pagi, dan sering nilep duit orang tua justru gemar membaca novel ? Ya, addict sama novel. Mungkin anda mengira saya ini banci, hanya kamuflase, hanya ikut-ikut yang gemar sama novel. Hobby absurd saya ini sudah saya lakukan sejak kelas 3 SMP lalu.







Awalnya saya memang ikut-ikut ibu saya yang addict sekali sama novel. Beliau kalau sudah baca novel, bila diganggu akan sangat marah besar. Jangankan saya sebagai anaknya, suaminya sendiripun tak berani dekat dengan beliau waktu beliau novel-ing. Akan tetapi beliau sekarang sudah tua, otomatis  penglihatan berkurang dan semakin sibuk dengan thesis S2 beliau, jadi sudah tidak membaca novel lagi. 

Akan tetapi, ada feel sendiri yang saya rasakan ketika membaca novel. Ketika membaca hasil gerakan pena yang tertuang pada secarik kertas, ketika "berpikir dengan keras" maksud alur kejadian yang ada, dan ketika mem-flash back dari awal sampai akhir untuk ditarik kesimpulan yang dimaksud dalam suatu karangan yang bernama novel.
Dan jangan salah, bukan novel semacam love story lah dunia remaja lah apalagi drama korea yang saya sering baca, bukan. Novel macam apa semua itu, tidak mampu mengalihkan pandangan mata saya. 
Lalu ? Pernah nggak kalian mendengar nama Agatha Christie ? Sidney Sheldon ? John Grisham ?
Ya, mereka adalah orang yang mampu membuat saya bertahan di kamar berjam-jam hanya untuk membaca karangan mereka. Secara garis besar, mereka selau mengangkat dan menonjolkan sisi cerita pembuhunan yang kadang di luar nalar.

Ya, itulah saya....

Satu perkataan yang tidak pernah saya lupakan adalah perkataan teman saya ketika tidur di kamar saya, Dendi namanya. "Bajingan, kowe iki tak sawang yo ngrokok bokep'an kethok sangar, tapi koleksi novelmu nggon rak buku sak ndayak koplak"



Mungkin kesannya saya mengada-ada mungkin kesannya saya berdusta, tapi ketahuilah.. berkunjunglah ke rumah saya bila anda tidak percaya. 

re-post re-update,
Ervan