Pernah kalian memarahi cewek kalian atau pacar kalian karena sesuatu hal ? Pernah kalian membentak dia dengan nada tinggi sehingga mereka menjadi takut ? Pernah kalian membuat bete mereka sehingga mereka menjadi sedih bahkan sempat mentikkan air mata ? Pernah ? Lalu, apa yang anda rasakan pada saat itu bila anda sebagai cowok ?
Malam itu Ervan memacu pelan sepeda motornya menuju ke daerah Nayu. Dengan penuh harap antusias dia berharap malam itu akan menjadi malam yang seperti malam-malam minggu seperti biasanya. Bercanda, bersendau gurau, bercerita kesana-kemari sembari menyatap makanan. Sesampainya di Nayu, terlihat remaja berambut panjang bergelombang dengan pakaian lengan panjang dan bawahan jeans biru. Dia terlihat seperti biasanya, walaupun dari sorot bola matanya terlihat menyembunyikan sesuatu. Ya, perempuan itu bernama Siska.
"keluar dulu tante, Assalamualaikum"
"iya, hati-hati di jalan"
Jawab perempuan paruh baya itu. Dari raut mukanya beliau terlihat sedang sakit. Dan benar saja, beliau memang sedang sakit flu.
Motor pun dipacu dengan pelan, karena saat-saat seperti itulah Ervan dan Siska kerap melakukan pembicaraan ringan sembari bersendau gurau. Dari satu tempat ke tempat lain mereka kunjungi. Namun semaunya tidak cocok dengan alasan ramai. Memang waktu itu semua tempat makan penuh dengan muda-mudi yang sekedar ngobrol dan wasting time.
"rame semua ini, kita pulang saja ya. He-he-he"
"yaudah, balik aja ke rumah. Lagian juga udah malem."
Niat pun sudah bulat untuk kembali ke rumah Siska. Akan tetapi, ada satu tempat makan yang terlihat sepi. Dan akhirnya mereka pun mampir ke tempat itu. Tempat itu tergolong baru, berada di salah satu jalan protokol di Kota Solo. Menunya pun aneh di lidah sebagian orang Jawa. Pasta, sekotel, dan olahan serba Italia semua.
"silahkan ditunggu sebentar pesannya mas, mbak"
Sembari menunggu pesannya, mereka berdua asyik dengan gadget mereka sendiri. Apalagi si Ervan, dia memang agak autis dengan hal-hal semacam itu. Pesannya pun datang. Mereka langsung mencicipi hidangan itu sembari terlibat obrolan ringan dan sendau gurau. Terlihat mereka menikmati malam itu berdua, ceria dan tertawa.
Hidangan pun habis tak bersisa, mereka tampak puas menikmatinya. Tiba-tiba Siska menyeletuk.
"kamu kemarin berasa apa pas aku mbales BM-nya lama ? katanya merasakan sesuatu yang aneh ?"
"iya, aku merasakan sesuatu yang janggal. Kamu kenapa ? cerita gih"
"ngerasain apa ? aku nggak kenapa-kenapa kok. he he he"
Siska memang pandai menyembunyikan sesuatu. Dia pandai berkilah. Tapi Ervan terus mengejarnya agar dia mau menjawab pertanyaan Ervan, bahkan dia mulai tersulut emosinya dan dengan nada tinggi membentak dan menanyai secara kasar. Siska pun juga agak terpancing emosinya.
"kamu kenapa ? ngomong gih, kenapa ?"
"aku nggak kenapa-kenapa. Mau ngomong apa coba"
"yaudah"
Akhirnya mereka pun menyudahi sementara perdebatan itu. Dan mereka meninggalkan tempat makan itu. Motorpun kembali dipacu dengan pelan kembali menuju rumah Siska. Dalam hati, Ervan bergumam bahwa dia harus mengetahui apa yang dialami oleh ceweknya tersebut. Sesampainya kembali di Nayu tersebut, Ervan dengan kasar menarik tangan Siska untuk duduk bersama di suatu tempat duduk.
"kamu kenapa ? berantem sama ibuk ? ada masalah di rumah ?"
"aku nggak kenapa-kenapa. Hish dibilangin nggak percaya. Udah, kamu pulang aja gih"
"o gitu, yaudah aku pulang. Pamitin ke ibuk"
Ervan pun menaiki motornya kembali. Dengan ekspresi yamg jengkel dan marah dia pulang ke rumah. Terlihat sebelum pulang, Siska menunjukkan ekspresi yang ketakutan melihat raut muka penuh ekspresi Ervan.
Kemudian Siska pun mengirim pesan BBM kepada Ervan.
"thank you, love u"
jangan bete, aku nggak kenap-kenapa"
Dalam perjalanan pulang, Ervan berpikir kenapa dia tadi justru emosi. Kenapa dia justru membentk Siska. Ervan pun menyesal. Sesampainya di rumah, dia pun segera membalas pesan BBM Siska.
"iya, love u too"
"iya udah, aku minta maaf aku salah"
Akhirnya masalah itu pun selesai, karena memang Siska tidak menyembunyikan sesuatu.
Mau diapain juga percuma. Mau didebatin kaya' apa juga ya percuma. Kodratnya lelaki itu selalu salah dlam hubungan. Salah di mata ceweknya.
Jadi ya, lelaki itu pasti dan salah.
Ervan





